Data Pribadi Anda Dijual!
April 4th, 2011, Written by: | Categories: Opinion, Security

Suatu pagi seperti biasanya Anda mulai bekerja dengan semangat. Setelah menikmati secangkir kopi, anda pun login email account Anda melihat apakah ada email balasan dari client mengenai projek yang dibahas kemarin. Tetapi alih-alih anda melihat email balasan dari client, anda malah mendapatkan email dari seorang yang tidak anda kenali. Ternyata dia mengirimkan promosi kepada anda. Ternyata pengiklan lagi. Anda mungkin tidak pernah merasa memberikan alamat email kepada mereka, tetapi mengapa mereka tahu alamat email Anda? Ada banyak alasan, tetapi salah satunya email Anda dijual.

Praktek penjualan data pribadi secara teoritis adalah legal selama mendapat izin dari user. Masalahnya, apakah sang user sadar telah memberikan izin?

Praktek penjualan data pribadi secara teoritis adalah legal selama mendapat izin dari user. Masalahnya, apakah sang user sadar telah memberikan izin?

Mungkin Anda sudah pasti mengetahui dengan pasti bahwa email pun bisa dijual seperti halnya nomor telepon pun dijual ke orang-orang. Umumnya hal yang paling sederhana adalah ketika terdapat sebuah website menarik. Yang menawarkan software atau produk lainnya secara gratis kepada Anda dengan syarat cukup mendaftarkan alamat email Anda. Maka kemungkinan besar email tersebut sudah masuk ke daftar email yang akan dijual. Tentunya jadi tanda tanya, sebetulnya apakah legal menjual email orang lain?

Kita lihat terlebih dahulu di bagian Amerika Serikat karena sebagian besar website berasal dari negara tersebut. Sebenarnya tidak ada hukum mengenai penjualan alamat email, yang ada hanyalah hukum atas spamming. Artinya selama sang pemilik email bersedia, pihak web boleh saja menjual email ke orang lain. Umumnya kita tidak akan menyadarinya, karena tertulis pada Term Of Service yang kebanyakan tidak akan dibaca orang. Selama Anda klik Agree, submit atau sejenisnya maka itu artinya Anda sudah menyetujui semua ketentuannya, tidak peduli sebetulnya dibaca atau tidak.

Di Indonesia sendiri sejauh yang penulis ketahui belum ada aturan juga mengenai penjualan data pribadi ini termasuk penjualan informasi email. Jadi apabila ada website Indonesia yang menjualkan email Anda ke orang lain, juga tidaklah bermasalah.

Kita mungkin bisa saja berhati-hati memberikan email di website-website yang tidak jelas walaupun diiming-iming hadiah menarik. Tetapi apakah email kita sendiri cukup aman untuk website-website yang sudah sangat terkenal seperti Yahoo, Facebook, Apple ataupun Google?

Mari kita lihat salah satu kasus Facebook. Jika Anda seorang pengguna Facebook maka seharusnya Anda menyadari kalau Facebook beberapa kali melakukan perubahan Term of Use-nya. Pada masa-masa awal, Facebook memiliki satu klausa yang memungkinkan dia menjual informasi pribadi penggunanya kepada orang lain seperti yang tercantum di sini “We may share your information with third parties, including responsible companies with which we have a relationship.” Belakangan informasi ini dicabut. Walau demikian tetaplah berhati-hati meletakkan informasi pribadi di website, karena segala informasi yang Anda letakkan merupakan hak milik Facebook, yang boleh dipergunakan mereka apabila dianggap perlu.

Contoh lain, misalnya Yahoo. Menurut Anda kira-kira apakah informasi pribadi Anda tidak diberikan atau dijual ke orang lain? Dari halaman help sendiri disebutkan demikian “Consistent with the Privacy Policy, Yahoo! does not rent, sell, or share personal information about you with other people or nonaffiliated companies except to provide products or services you’ve requested, when we have your permission,…” Artinya apabila Anda menyetujuinya atau ingin menyediakan jasa yang Anda minta. Jadi selalu ada celah untuk memberikan informasi pribadi Anda kepada orang lain.

Praktek ini sebetulnya sudah sangat lazim dilakukan. Majalah IT terkenal di Jerman, Stern pernah melakukan uji coba. Mereka sengaja membeli ratusan daftar informasi pribadi seharga 1.5 euro ditambah pajak pertambahan nilai. Kemudian ditambah 12 cent untuk nomor telepon pengguna. Kemudian mereka sengaja menelepon satu per satu daftar tersebut dan memberi tahu informasi pribadi mereka. Tidak diragukan orang yang ditelepon semuanya betul-betul terkejut, karena tidak pernah menyadari data pribadi mereka telah dijual. Padahal sebetulnya aturan proteksi data pribadi di Jerman sangat ketat (Bundesdatenschutzgesetz). Hanya saja karena selama tidak ada pengguna yang melakukan protes secara eksplisit maka dianggap tidak bermasalah.

Bagaimanapun juga ini seperti novel karangan George Orwell “1984″ yang sering menyinggung “Big Brother is watching you”. Penulis rasa sekarang bahkan sudah sampai ke tahap “Big Brother is selling you

More about: , ,

Leave a Reply