Skandal SEO JC Penney
September 25th, 2012, Written by: | Categories: Internet, Opinion

Semua perusahaan sudah pastinya akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat Web-nya tampil pertama di hasil pencarian di Internet. Itu sebabnya beberapa dari mereka akan mencari perusahaan yang bergerak di bidang jasa Internet marketing untuk meningkatkan peringkat mereka di Web. Tetapi bagaimana jika perusahaan tidak mengetahui apa yang dilakukan vendor Internet marketing mereka? Malapetaka mungkin saja mengintai. Seperti yang terjadi pada salah satu perusahaan retail terbesar di Amerika, J.C. Penney. Bagaimana kisahnya? Simak artikel Computesta kali ini.

J.C. Penney merupakan perusahaan retail yang mirip dengan Matahari di Indonesia. Mereka menjual berbagai barang kebutuhan sehari-hari mulai dari pakaian, tas, sprei tempat tidur dan lain sebagainya. J.C. Penney waktu itu pun meng-hire sebuah perusahaan Internet marketing bernama SearchDex untuk membantu meningkatkan peringkat situs mereka yang bernama jcpenney.com.

J.C. Penney

Salah satu toko J.C. Penney

Hasilnya sebetulnya memuaskan. Bahkan, sebenarnya terlalu berlebihan. Kata kunci yang sangat umum seperti “dresses” atau “bedding” menempatkan J.C. Penney di urutan pertama. Jika hanya beberapa keyword umum yang berada di posisi pertama, tentunya masih wajar. Tetapi J.C. Penney memiliki banyak sekali kata kunci yang menempatkan Web-nya di posisi pertama.

Kejadian ini mulai ketahuan setelah New York Times, pada Februari 2011 mengangkatnya menjadi berita. Mereka menemukan banyak sekali Web tidak jelas yang me-redirect ke situs J.C. Penney. Di dalam dunia SEO ini jelas-jelas adalah cara backlink yang tidak benar. Sesuatu yang sangat dilarang Google. Dan jumlah backlink tidak normal ini tidak sedikit. Jadi bisa dikatakan situs J.C. Penney ketahuan menggunakan backlinking tidak sehat untuk mendongkrak rangking mereka. Bayangkan saja, ada Web casino-focus.com yang me-link ke J.C Penney dengan keyword “evening dresses” atau ada situs elistofbanks.com yang link dengan kata kunci “casual dresses”. Dan jumlah link-link seperti demikian mencapai ribuan.

Setelah ketahuan seperti itu, akhirnya dalam hitungan hari dan bahkan jam, Google mulai mengambil langkah. Kata kunci yang awalnya menempatkan situs JCPenney.com berada di posisi pertama mulai tergeser ke posisi halaman dua, tiga dan bahkan beberapa tidak kelihatan sampai halaman enam atau tujuh.

Matt Cutts menindaklanjuti kasus J.C. Penney

Matt Cutts, kepala Webspam Google, menindaklanjuti kasus J.C. Penney setelah mendapat laporan tersebut. Dalam beberapa hari, peringkat J.C. Penney langsung melorot.

Belakangan ketika diminta keterangan pihak humas J.C. Penney hanya menjelaskan bahwa mereka tidak mengerti apa yang dilakukan oleh vendor mereka. Yang pastinya mereka serta merta memecat vendor SearchDex pada saat kejadian itu.

Kejadian J.C Penney ini bukan pertama kalinya perusahaan dalam daftar Fortune 500 tertangkap menggunakan teknik SEO blackhat. BMW pada tahun 2006 juga tertangkap basah melakukan cara curang pada situs BMW.de mereka. Akibatnya lebih parah dari J.C. Penney. Google langsung mem-ban BMW.de dari hasil pencarian sampai BMW mau memperbaikinya.

Menurut penulis, J.C. Penney hanyalah satu dari sekian perusahaan yang menggunakan cara yang abu-abu demi mencapai posisi pertama. Dan menurut penulis, itu tidak terelekkan. Hanya saja masalahnya, apakah perusahaan itu menyadari apa yang dilakukan sang vendor? Di sinilah perlunya monitor dari perusahaan. Sebagai klien, perusahaan tidak boleh lepas tangan kepada vendor semuanya. Setidaknya perusahaan wajib mengetahui proses pengerjaan SEO itu. Misalnya Web apa saja yang link ke Web perusahaan. Perusahaan wajib harus mengetahui ini, karena yang mendapat penalti dari mesin pencari juga bukan vendor, tetapi sang pemilik Web sendiri. Perusahaan bisa mengatur keseimbangan antara cara whitehat atau blackhat dengan demikian baru bisa meningkatkan rangking dengan natural. Bagaimana pendapat Anda?

More about: ,

Leave a Reply