Mengapa Website TIDAK Murah
April 18th, 2011, Written by: | Categories: Opinion

“Yah bikin website hanya seperti ini kok mahal gitu yah?” Terkadang sebagai web developer pasti pernah bertemu client menyelutuk demikian. Penulis setelah sekian waktu berkecimpung di dunia web development bersama teman-teman lain di Computesta, pun sebenarnya sering menjumpainya. Sebetulnya bagaimanakah definisi mahal atau murah itu? Penulis akan mencoba memaparkan dibalik sebuah harga untuk website, sekaligus supaya menjadi pengetahuan bagi semuanya dan dapat menghargai jerih payah para web programmer ataupun web designer.

Website tidak murah jika ingin mengutamakan kualitas. Karena memang diperlukan para spesialis untuk menanganinya

Website tidak murah jika ingin mengutamakan kualitas. Karena memang diperlukan para spesialis untuk menanganinya

Kadang, orang ingin membuat harga website hanya sekitar 1-2 juta, atau kadang di bawah 1 juta. Mungkin dari sisi sebagian client, harga ini adalah sesuatu yang masuk akal. Wong web developer tidak perlu bahan baku atau apa-apa, cuman duduk utak-atik di komputer, sebentar juga web sudah jadi. Masa perlu harga semahal gitu sih?

Sebetulnya sejujurnya membuat website dengan modal sebesar 1-2 juta terkadang tidak mungkin. Mengapa? Penulis pernah menerima beberapa projek yang nilainya kecil, dan menanggung akibatnya, mengutat coding yang kompleks, kejar-kejar deadline, lembur dan lain-lainnya sehingga serasa tidak sesuai. Lalu sebetulnya sebetulnya mengapa harga website kadang bisa sampai 6-7 juta hanya untuk sebuah website, misalnya untuk sebuah website company profile ?

Dalam sebuah tim web developer biasanya terdiri atas beberapa anggota yang masing-masing memiliki fungsinya sendiri. Ini sebetulnya adalah sebuah bentuk profesionalitas, dibandingkan satu orang saja dan menjadi superman yang harus bisa mengerjakan analisa, coding, desain, testing, dan lain-lain  (yang ironinya sangat umum di Indonesia).

Spesialis pertama dalam tim pengembang web adalah web desainer. Tugasnya adalah merancang tata letak website, menentukan warna, foto apa yang dipasang, tipografi, dan lain-lain supaya nyaman dipandang. Dia harus menangkap konsep dari client, memeras otak supaya mendapatkan ide seperti apa yang sesuai untuk audience alias pengunjung web. Dan untuk memeras otak ini tidak hanya sekali. Dia harus mendesain beberapa supaya client bisa memiliki pilihan. Setelah selesai membuat desain apakah tugasnya sudah selesai? Sebenarnya belum, karena bisa saja ada revisi sana sini dari sisi client. Revisi akan jauh lebih berat kalau client “ikut serta mendesain” (maksudnya ikut-ikutan menentukan desain website).

Untuk beberapa web developer mereka memiliki seorang spesialis User Experience Consultant. Yang tugasnya untuk menentukan bagaimana tampilan sebuah website bisa membuat pengunjung merasa nyaman dalam berinteraksi. Tetapi jika tidak ada spesiali demikian maka umumnya web desainer lah yang mengurusnya.

Setelah desain selesai, saatnya untuk menulis sistem. Sebelumnya dalam pertemuan dengan client, para web developer sudah mengerti requirement mereka. Nah sebelum memulai menulis coding, maka sang analis akan mencoba menganalisa terlebih dahulu fitur-fitur yang ada di website bagaimana bentuk database-nya dan bagaimana bentuk class diagram. Untuk kasus company profile, juga berlaku hal yang sama, tergantung dari keperluan dari client sendiri.

Selain analisis, setelah desain selesai juga terdapat staf yang fokus pada spesialisasi HTML/CSS atau mungkin kita bisa sebut HTML/CSS programmer. Dialah yang fokus untuk mengubah desain dalam bentuk gambar menjadi coding HTML/CSS yang valid. HTML/CSS yang baik harus bisa tampil dengan benar di berbagai browser.

Setelah mendapat database yang dimiliki saatnya sang programmer menulis coding. Di sini untuk sebagian web developer membagi programmer menjadi dua jenis. Front-end programmer dan back-end programmer. Front-end yang bertugas menulis coding untuk tampilan website, baik itu tampilan control panel admin, supaya client bisa mengganti konten website, ataupun bagian luar yang untuk ditampilkan kepada pengunjung website. Front-end programmer juga kadang harus menangani masalah javascript baik untuk segi efek ataupun tujuan lainnya. Sedangkan bagian back-end programmer mereka yang bertugas menulis coding bagian dalam sistem. Sistem ini sedemikian dasarnya, biasanya client tidak akan pernah menyadari kerumitan ataupun keruwetan logika dibaliknya.

Programmer tidak luput dari revisi. Bisa saja di tengah pengembangan tiba-tiba ingin menambah sistem member “saja” atau menambah fitur testimonial “doank”. Nah di sini analis kembali merancang database dan kemudian programmer menulis modul coding.

Untuk company profile terkadang dibutuhkan kata-kata yang cerdas dan menarik untuk website. Di sini seorang web journalist mulai melakukan pekerjaannya. Karena mereka harus menggunakan tulisan-tulisan yang baik dan juga diharapkan mampu meningkatkan hasil pencarian di mesin pencari Internet.

Setelah coding jadi, siap di-test maka langkah selanjutnya adalah sang quality control mengecek apakah terdapat kesalahan sistem. Dia wajib mengecek setiap modul-modul yang ada, karena bagaimanapun sistem tidak pernah luput dari kesalahan (bahkan produk selevel Windows yang dibuat ratusan orang juga ada bug). Selain itu juga terdapat staff untuk menyusun dokumentasi bagaimana menggunakan sistem bersangkutan, sehingga client tidak kebingungan menggunakan sistem baru ini.

Client juga dipersilahkan mencoba website barunya. Jika dia sudah puas, maka dapat dilanjutkan ke tahap berikutnya, yakni memasang sistem tersebut ke web hosting. Umumnya karena client ingin menyerahkan sepenuhnya kepada web developer maka web hosting juga yang memesan web hosting dan domain. Dan terakhir memberikan pelatihan langsung jika diperlukan.

Setiap bagian pekerjaan seharusnya ditangani oleh staff dengan spesialisasinya itu artinya yang mengerjakan web tidak hanya satu orang. Walaupun untuk perusahaan kecil umumnya tetap ada yang merangkap (misalnya quality control sekaligus web journalist atau web desainer sekaligus user experience consultant) tetapi jumlah pekerjaan yang dilakukan adalah tetap. Untuk menyelesaikan sebuah website pada umumnya adalah 2 bulan jika tidak terjadi banyak aral melintang, walaupun kadang ada projek-projek besar yang bahkan mungkin bisa sampai 3-4 bulan dikarenakan fitur-fitur yang diinginkan.

Client sebenarnya bisa mengganggap dirinya meng-hire sekumpulan web spesialis selama beberapa bulan untuk menyelesaikan sebuah website jadi. Nah karena itulah mustahil bisa mengharapkan hasil yang sangat bagus tetapi hanya dengan biaya 1-2 juta saja. Jadi bukan berarti web developer mengganggap kecil 1 juta. Karena penulis juga setuju kalau 1 juta juga sebetulnya besar! Hanya saja dibandingkan yang harus dikeluarkan oleh para crew dalam tim, harga 1 juta sungguh tidak sesuai…

More about: ,

Leave a Reply