4 Kelainan Yang Dipicu Internet
March 27th, 2012, Written by: | Categories: Internet, Opinion

Mungkin Anda sudah bisa menduga kalau menggunakan Internet secara lama bisa menyebabkan mata rusak, karena sering menatap layar monitor secara terus menerus. Tetapi penulis kali ini tidak akan membahas mengenai masalah kerusakan yang terjadi pada mata Anda. Percayalah, kelainan ini mungkin jauh lebih serius daripada sekedar minus mata bertambah. Karena kelainan yang akan dipaparkan adalah gangguan kepribadian.

Communication Addiction Disorder

Sesuai dengan namanya yang jika diterjemahkan dengan harfiah berarti kecanduan komunikasi. Orang penderita kelainan ini merasa harus berkomunikasi walaupun sebetulnya tidak perlu. Pertama kali dikemukakan oleh Joseph B. Walther dengan makalahnya yang berjudul Communication Addiction Disorder: Concern over Media, Behavior and Effect. Dalam makalahnya, Walther menjelaskan penggunaan Internet secara berlebihan selain menyebabkan kecanduan Internet, yang memicu kecanduan komunikasi. Walaupun terdengar lucu tetapi kelainan ini pastinya bisa mengganggu keseharian orang disekitar. Karena Anda akan dicap sebagai bawel dan biasanya cenderung kurang disukai orang pada umumnya.

Communication Addictive Disorder

Penggunaan Internet secara berlebihan dipercaya Walther dapat memicu seseorang ketagihan untuk berkomunikasi.

 

Intermittent Explosive Disorder Online

Orang yang mengidap kelainan ini memiliki kendala dalam mengontrol emosi mereka. Mereka biasanya tidak akan segan-segan menghujat-hujat, menghina-hina ataupun memaki-maki orang yang dianggap mereka mengganggu. Orang ini gampang terlihat, terutama di forum. Di mana dia sangat gampang menggunakan huruf besar semua.

Capslock

Contoh di atas bukanlah penderita Explosive Disorder Online

Penyakit ini bisa muncul tidak lain karena Internet menawarkan anonimitas. Bayangkan saja, tidak ada orang lain yang mengenali Anda. Jadi jika Anda menghujat-hujat seseorang di forum diskusi, kemungkinan besar orang tersebut juga tidak bisa menghajar Anda. Itulah sebabnya orang relatif gampang menunjukkan emosinya di dunia Internet dibandingkan dunia nyata.

 

Low Frustation Tolerance

Anda baru saja posting sebuah tulisan yang sempurna pada sebuah forum. Anda sangat yakin post ini akan dilihat banyak orang, komentar-komentar akan berdatangan dan bahkan mungkin Anda akan mendapat Good Reputation. Kamu terus menerus menekan F5 untuk me-refresh halaman post Anda untuk melihat perkembangannya setiap beberapa detik. Tetapi beberapa menit kemudian tetap tidak ada yang berkomentar, maka Anda me-reply postingan Anda sendiri. Selamat Anda mungkin merupakan salah satu pengidap penyakit LFT. Orang pengidap Low Frustation Tolerance cenderung ingin mendapatkan kesenangan sesaat dan tidak suka kesakitan sesaat. Oleh karena itu toleransi mereka atas frustasi (karena kesalahan atau kegagalan) sangat rendah.

Low Frustation Tolerance

Penderita Low Frustation Tolerance umumnya suka menunda pekerjaan karena kecenderungan ingin menghindari frustasi sesaat, yang biasanya justru malah membawa ke masalah lebih besar.

Jika post sesuatu di Internet mereka tidak sabar ingin melihat hasilnya, tetapi enggan menunggu. Dan kalau hasilnya tidak memuaskan dia akan merasa kekecewaan yang mendalam. Penyakit ini dikarenakan fleksibilitas Internet. Di Internet kita bisa menerima informasi apa yang kita mau dengan cepat. Kita bisa membaca berita yang kita mau. Kita bisa mendengar lagu yang kita mau dengar. Kita bisa menonton video yang kita mau. Kita menjadi terbiasa akan hal ini. Oleh karena itu, secara tidak sadar kita dilatih untuk menjadi tidak sabar. Yang pada akhirnya tidak bisa bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.

 

Münchausen syndrome

Orang pengidap sindrom Münchausen biasanya melebih-lebihkan sesuatu guna menarik simpati atau perhatian orang lain. Terkadang mereka sengaja berbohong dengan menceritakan kejadian-kejadian menyedihkan supaya orang mengasihani dirinya. Kelainan ini sudah ada sejak dulu, tetapi kemunculan di Internet tercatat di awal tahun 1990 sudah ada. Tetapi baru tahun 1998 sindrom Münchausen di Internet diidentifikasi secara khusus oleh seorang psikiater bernama Marc Feldman yang kemudian menyebutnya sebagai “Münchausen by Internet”.

Kaycee Nicole Swenson

Contoh kasus Münchausen yang heboh adalah hoax Kaycee Nicole Swenson penderita kanker berumur 19 tahun yang belakangan ketahuan hanya karangan seorang perempuan berusia 40 tahun.

Sama dengan Intermittent Explosive Disorder Online, tidak ada yang mengetahui identitas seseorang di dalam dunia maya. Oleh karena itu, ketika seseorang berbohong guna menarik simpati orang, maka kebohongannya juga sulit dilacak dibandingkan dia berbohong di hadapan orang langsung. Karena demikianlah Internet bisa menjadi pemicu bagi orang-orang untuk melakukannya.

 

Sebenarnya jika diperhatikan kembali, jika kita hati-hati menggunakan Internet dalam artian tetap memperhatikan etika dalam Internet dan membatasi waktu ber-Internet tentunya kelainan tersebut tidak gampang dipicu. Apakah diantara pembaca ada yang pernah bertemu orang dengan kelainan-kelainan yang disinggung di atas?

More about: ,

Leave a Reply